iklan-banner-01
iklan-banner-02

Soal Impor Beras, Pengamat: Harus Ada Gerakan Diversifikasi Pangan

Pakar Ekonomi Pertanian IPB Prima Gandhi (Kanan) dalam diskusi MPR RI, 'Strategi Mewujudkan Ketahanan Pangan' di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Jumat, (14/9/2018).
PAMANAWANews, JAKARTA- Kebijakan pemerintah untuk impor beras selalu menjadi polemik di tanah Air. Pakar Ekonomi Pertanian IPB Prima Gandhi bahkan mengatakan ketahanan pangan akan menjadi isu seksi menjelang hajatan besar pada pilpres 2019 mendatang.

Karena pasti, menurut dia, permasalahan impor tersebut menjadi bahan yang akan di bahas oleh salah satu pasangan calon pemimpin. Sebab, ketergantungan pangan terhadap komunitas beras dari tahun ke tahun masih belum bisa diputuskan.

"Padahal kalau dulu sejarahnya negara kita ini kaya akan bahan makanan pokok lain seperti singkong, jagung, tetapi pasca revolusi hijau semua dipaksa makan beras," ujar Prima dalam Diskusi MPR RI,' Strategi Mewujudkan Ketahanan Pangan' di Parlemen Senayan, Jumat, (14/9/2018).
 
Kebijakan impor beras menurut menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito sangat dibutuhkan untuk menambah pasokan pangan yang belum bisa terpenuhi produksi dalam negeri. Sementara, Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin stok beras cukup untuk memenuhi kebutuhan sehingga tidak perlu impor.
 
Sedangkan, Badan Pusat Statistik (BPS), menegaskan data produksi beras merupakan wewenang dari Kementerian Pertanian (Kementan). Sementara BPS tidak merilisnya, sehingga tidak dapat memastikan apakah data Kemendag maupun Kementan yang benar atau salah.
 
"Nah, adu argumen terkait dengan angka-angka produk impor ini yang bersama-sama wajib kita kritisi dan juga kita harus melakukan gerakan, Diversifikasi pangan," pungkas Prima.
 
Prima menjelaskan, diversifikasi pangan dibutuhkan agar masyarakat tidak terpaku pada satu jenis makanan pokok saja, dan terdorong untuk juga mengkonsumsi bahan pangan lainnya.
 
"Ketahanan pangan di Republik ini, bukan beras saja, kalau kita masih butuh beras, ya sulit. Orang Papua kena busung lapar karena dipaksa makan beras, padahal sebelumnya mereka konsumsi sagu," imbuhnya.
 
Untuk itu, Prima meminta semua pihak mendiskusikan, sekaligus mengambil langkah konkret dengan adanya gerakan diversifikasi Pangan.
 
"Indonesia memiliki beragam hasil pertanian untuk dijadikan makanan pokok seperti, ubi, talas. Mari Prioritaskan pangan-pangan lokal agar kita tak lagi tergantung dengan impor beras," harapnya. (PN-01/adp)

Berita terkait