iklan-banner-01
iklan-banner-02

Mengintip Lumbung Ikan Demarshal di Desa Kilwaru

SETIAP BULAN 15 TON IKAN MENTAH DISTRIBUSIKAN Nikmat Allah manakah yang bisa kamu dustakan?, pertanyaan inilah yang muncul dalam benak setelah mengetahui potensi ikan demarshal di Kecamatan Seram Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur. Belum ada data akurat tentang populasi ikan demarshal yang terkandung di laut Maluku, namun bila ada yang mempertanyakan dimanakah lumbung ikan yang hidup di dasar laut itu ? Jawabannya ada di Kecamatan Seram Timur.
Nelayan Desa Kilwaru dengan hasil tangkapannya berupa ikan kaka tua

Kilwaru mungkin menjadi sebuah nama yang akan mencuat kepermukaan, untuk setiap orang yang berkunjung dan ingin menyantap ikan demarshal segar di daerah ini. Desa yang konon namanya diambil dari  kata  "Kilwar" atau sebuatan lain dari cahaya yang muncul dari sebuah daratan gosong (daratan pasir) ini, menyimpan sejuta pesona alam dan juga potensi ikan demarshal yang berlimpah.

Bukan saja potensi ikan yang berlimpah. Kisah nelayan penangkap ikan demarshal di desa ini juga dipenuhi cerita unik. Banyak dari nelayan di Desa Kilwaru memilih melaut di waktu malam, karena datangnya malam juga membuat berbagai jenis ikan demarshal menjadi terlelap dan gampang untuk ditangkap.

"Ada jenis ikan yang namanya ikan Kakatua, sering nelayan disini menangkapnya dengan cara menyelam dan mendekatinya, kemudian mengaitkan kail di bagian mulut langsung di tarik ke permukaan air,"ungkap Ismail Rumau.

Parrotfish, atau yang sering dikenal dengan nama ikan Kakatua, merupakan salah satu jenis ikan demarshal yang menjadi sumber bahan baku bagi nelayan di Desa Kilwaru untuk menghasilkan beberapa produk olahan berupa ikan asin dan abon. Ikan yang dulunya oleh warga setempat dianggap ikan kelas dua, karena harganya yang miring di pasaran itu, kini mulai menjadi rebutan nelayan.

Ikan ini dulunya tidak laku dijual, karena peminatnya cukup rendah atau kalah bersaing dengan ikan demarshal jenis lainnya. Setelah masuknya program SOLID di Desa Kilwaru, oleh nelayan binaan program SOLID kemudian dijadikan sebagai bahan baku dari olahan ikan asin dan abon ikan.

"Ikan jenis ini mudah diperoleh, namun nelayan enggan menangkapnya karena warga kurang berminat mengkonsumsinya. Skarang jenis ini kami buat menjadi ikan asin dan abon ikan. Alhamdulillah banyak nelayan yang bersuka ria, karena bisa menghidupi keluarganya dari tangkapan ikan jenis ini," tutur Ismail Rumau Ketua Federasi Karya Mandiri Desa Kilwaru.

Jenis ikan yang memiliki nama latin Scarus Croicensis ini tergolong ke dalam famili Scaridae. Meski parrotfish  tergolong jenis ikan hias yang berperilaku lincah, namun ikan ini cukup mudah dijinakkan karena pada dasarnya ikan ini bersifat jinak.

Untuk mengenali parrotfish ini sangat mudah. Selain dari ciri khas moncongnya, parrotfish juga dikenal sebagai ikan yang memiliki komposisi warna sisik yang menarik. Pada parrotfish warna hijau metaliknya terlihat cukup jelas pada sisik di bagian tubuh atasnya.

Ikan kakatua adalah satu diantara puluhan jenis ikan yang di temui di desa tersebut. Ada puluhan jenis ikan lainnya yang menjadi sumber pendapatan nelayan setempat. Dari hasil jerih payah nelayan di enam dusun yang menjadi petuanan Desa Kilwaru inilah, terungkap sebuah angka yang pantastis tentang kuantitas jumlah ikan hasil tangkapan nelayan  yang bisa diperoleh di perairan Kecamatan Seram Timur.

Madja Rumalutur  Ketua Koperasi Perikanan Etarsia, Desa Kiltai, Kecamatan Seram Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) dalam sebuah kesempatan mengakui setiap bulannya ikan demarshal atau jenis ikan yang hidup di dasar laut itu, mampu dieksploitasi nelayan di kecamatan tersebut mencapai puluhan ton.

Khusus untuk nelayan binaan program SOLID setiap bulannya bisa menjual sebanyak 15 ton. Ikan berbagai jenis ini merupakan hasil tangkapan dari nelayan -nelayan di  enam dusun yang menjadi petuanan Desa Kilwaru. "Kami masih terkendala dengan angkutan kapal yang kami pakai untuk menampung hasil tangkapan ikan dari nelayan binaan SOLID,"ungkap Madja.

Ketua Koperasi Etarsia itu, kini tengah menjalin kerjasama dengan  Federasi Karya Mandiri binaan program SOLID di Desa Kilwaru, sebagai mitra untuk mendistribusikan hasil tangkapan ikan demarshal dari 10 kelompok mandiri  binaan SOLID di Desa Kilwaru.

Belasan ton hasil tangkapan nelayaan binaan program SOLID SBT, berupa ikan mentah ini selanjutnya di pasarkan di kota Ambon, setelah ditampung  oleh kapal Inka Mina 172 yang disewa oleh Koperasi Etarsia.

"Alhamdulillah, nelayan disini sudah terbantu, dengan kehadiran kami di tengah mereka. Hasil tangkapan nelayan juga dapat terjual dengan cepat, tanpa harus melakukan pengawetan dengan es dalam waktu yang lama,"kata Madja penuh optimis.

Pengakuan Madja juga diperkuat  Ismail Rumau. Ketua Federasi Karya Mandiri Desa Kilwaru, binaan SOLID SBT ini, mengakui federasi yang dipimpinnya kini tengah menjalin kerjasama dengan Koperasi Etarsia yang bergerak di bidang perikanan tersebut. Kerjasama itu dilakukan setelah 10 kelompok mandiri binaan SOLID yang dibawahi federasi yang dipipimpinnya itu, mengalami kendala untuk memproduksi ikan asin dan produk turunan lainnya, karena bahan baku berupa ikan mentah yang merupakan hasil tangkapan nelayan SOLID berlimpah.

"Jika kami hanya bertahan dengan melakukan pengolahan hasil dari ikan yang diperoleh nelayan, maka sudah pasti nelayan binaan SOLID akan kesulitan untuk menyambung hidupnya, lantaran produk ulahan kami berupa ikan asin dan produk lainnya, masih terkendala dengan akses pasar,"tandas Rumau. (dhino pattisahusiwa)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02