iklan-banner-01
iklan-banner-02

Anna Latuconsina: Industri Merupakan Sektor Vital Ekonomi Bangsa

PAMANAWANews, AMBON- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPD) RI, Anna Latuconsina mengatakan, sektor industri merupakan bagian vital dalam pembangunan ekonomi sebuah bangsa. Tanpa adanya industrialisasi, maka perekonomian suatu bangsa tak akan maju dan berkembang.
Anna Latuconsina, anggota DPD RI melakukan pertemuan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku, dalam rangka pengawasan UU No 3 tahun 2014 tentang perindustrian, Jumat (9/3/2018).

Hal ini disampaikan senator asal Maluku itu, saat melakukan kunjungan kerja dalam rangka tugas pengawasan pelaksanaan Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, yang berlangsung di ruang rapat kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku, Kota Ambon, Jumat (9/3/2018).

"Bagi Indonesia, kontribusi tertinggi sektor industri terhadap perekonomian (PDB) hanya sebesar 29,1% yang dicapai pada tahun 1999. Pasca 1999, kontribusi sektor industri terus menurun hingga menyentuh angka 20,4% pada 2017. Artinya, sektor industri Indonesia belum pernah mencapai capaian seperti capaian industri-industri maju di dunia dengan kontribusi sektor industrinya mencapai 40%," jelasnya.

Keberadaan UU Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, lanjut Anna, belum mampu mendorong perwujudan industrialisasi di Indonesia secara optimal. 

Belum optimalnya perwujudan industrialisasi lantaran diperhadapkan dengan berbagai permasalahan, pelaksanaan UU Perindustrian. Permasalah itu, kata Anna, diantaranya Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Bidang Perindustrian. 

"Di tingkat daerah misalnya, industrialisasi hanya menjadi urusan pilihan, dan bukan wajib. Hal ini berimplikasi pada Political Will daerah dalam pengembangan industri daerah," jelasnya.

Anggota Komite II DPD RI ini menilai, Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) dan implementasinya belum merata. Sebab, banyak daerah yang masih belum menyusun Rencana Induk Pembangunan Industri Daerah (RIPID) sebagai turunan dari RIPIN. 

"Fakta ini menjadikan pembangunan industri di daerah belum ada arah yang lebih jelas," kata Anna Latuconsina kepada pamanawanews.com.

Sementara untuk Maluku, RIPID di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku, kini dalam proses pembuatan dan telah sampai pada naskah akademisnya yang sudah siap.

Sementara penyempaian Kepala Balai Riset dan Standarisasi Industri Maluku juga mengaku balai merupakan lembaga untuk melaksanakan riset dan standarisasi di bidang industri. 

Penelitian yang dilakukan mereka saat ini yakni tentang produk hasil laut, dan minyak Atsiri. Minyak Astiri merupakan produk yang berpotensi besar di Maluku. 

"Saat ini mereka juga sedang melaksanakan pengujian dalam rangka penjaminan mutu untuk produk unggulan," tandasnya. (PN-20)

Berita terkait

iklan-banner-02
iklan-banner-02